Minggu, 09 Maret 2014

Summary human diversities, Gender.


Secara garis besar, pembagian jenis kelamin manusia memang dibedakan menjadi dua jenis yaitu laki – laki dan perempuan. Walapun begitu, dalam kenyataan yang terjadi di masyarakat banyak yang memiliki pandangan lain mengenai pembagian gender tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa manusia memiliki sisi maskulin dan feminim. Sisi maskulin biasanya lebih dominan pada diri seorang laki – laki, sedangkan sisi feminim biasanya lebih dominan pada diri seorang perempuan. Meski begitu, terkadang masih sering kita temui laki – laki yang memiliki sisi feminim yang lebih dominan dibangding sisi maskulinnya ataupun perempuan yang memiliki sisi maskulin yang lebih dominan daripada sisi feminimnya.
                Peran gender dalam kehidupan sehari – hari memang cukup kompleks. Gender berperan dalam membagi jenis kelamin dan memberikan informasi mengenai perlakuan yang tepat dalam menghadapi kedua jenis gender. Selain memberikan informasi, pembagian jenis kelamin juga berfungsi dalam pembagian porsi kerja dan mengatur mengenai cara interaksi yang tepat antara setiap jenis dalam dunia kerja.
                Di dalam masyarakat yang heteroseksual, kesukaan terhadap sesame jenis sangatlah dianggap tabu dan melanggar norma. Terlebih, kita tinggal di budaya timur yang mayoritas masyarakatnya sangat menentang pernikahan sesama jenis atau yang lebih kita kenal dengan homo dan lesbi.  Pada beberapa kasus, kita sering menemukan rasa takut dan cemas yang dialami oleh kalangan heteroseksual jika didekatkan dengan kalangan penyuka sesame jenis. Bahkan, pada beberapa kasus juga sering ditemukan tindak kekerasan yang menimpa kalangan penyuka sesama jenis.  Kasus ini biasanya disebabkan oleh phobia yang disebut homophobia.  Homophobia adalah perasaan takut tak beralasan yang menimpa kalangan heteroseksual ketika didekatkan dengan kalangan penyuka sesama jenis.
                Pada dasarnya, kebebasan setiap pemilik jenis kelamin terbatasi oleh norma – norma yang ada di dalam masyarakat. Terlebih, di dalam budaya Timur yang lebih mementingkan kesopanan. Salah satu contoh pembatasan yang sangat populer di budaya timur adalah perempuan dilarang untuk mendekati atau bersikap agresif dalam berhubungan dengan laki – laki. Selain itu, ada juga larangan bagi kaum laki – laki untuk menangis di depan public. Sebenarnya, larangan – larangan tersebut bukanlah suatu hukum tertulis yang wajib ditaati, namun larangan tersebut merupakan norma dan hukum yang berkembang di dalam pergaulan masyarakat. Karena merupakan hukum dari kesepakatan masyarakat, maka jika kita melanggar akan mendapatkan hukuman sosial dari masyarakat baik berupa cemoohan ataupun pengasingan dari pergaulan. (Hernando)

Sabtu, 08 Maret 2014

Pandangan Psikologi terhadap Kasus Pembunuhan Ade Sara



Sumber gambar: www.merdeka.com
      Sejak hari rabu lalu, tepatnya tanggal 5/3/2014 kita telah digemparkan oleh penemuan sesosok mayat Perempuan yang kira – kira berusia 18 tahun. Jenazah perempuan tersebut ditemukan di pinggir jalan Tol Bintara Cikunir, Kilometer 41, Bekasi, pada pukul 06.30 WIB. Jenazah perempuan tersebut dapat dengan mudah di identifikasi melalui E-KTP yang ditemukan dari dompet korban yang dibuang beberapa meter dari tempat kejadian perkara.
                Jenazah Perempuan tersebut di identifikasi sebagai Ade Sara.  Jenazah tersebut diduga sebagai korban pembunuhan. Hal ini teridentifikasi melalui luka bekas pukulan serta cekikan pada tubuh korban. Korban yang tergeletak di pinggir tol tersebut, ditemukan saat masih menggunakan gelang tiket dari salah satu acara musik yang sedang booming yaitu Java Jazz. Diduga pelaku pembunuhan adalah mantan pacar korban beserta pacar pelaku. Hal ini dapat teridentifikasi dari luka gigitan yang ditemukan di tangan (Hafitd, 19 tahun), ketika sedang melayat jenazah korban di RSCM.
                Pelaku pembunuhan (Hafitd) langsung diringkus setelah usai melayat jenazah korban dan kekasihnya (Assyifah, 19 tahun) diringkus setelahnya di Universitas Bunda Mulia. Kedua pelaku membunuh korban dengan menyumbat mulut korban dengan kertas koran serta menyetrum korban sekitar 3 menit dengan alat penyetrum hingga pingsan. Setelah Pingsan, kedua pelaku mencekik dan memukul korban hingga akhirnya  meninggal. Bahkan, setelah berita kematian korban tersebar luas, kedua pelaku masih sempat berkicau di twitter dan mengucapkan rasa bela sungkawa kepada korban. Assyifah, yang merupakan salah satu pelaku juga sempat berencana untuk melayat jenazah korban sebelum disemayamkan. Meski memiliki tujuan yang sama, kedua pelaku memiliki motif yang berbeda. Motif Hafitd dalam membunuh mantan kekasihnya, dikarenakan rasa sakit hati akan sikap korban yang tidak mau menemuinya serta berkomunikasi lagi dengan Hafitd. Sedangkan Assyifah, membunuh Ade Sara lantaran cemburu dan takut Hafitd kembali dengan mantan kekasihnya.
                Jika dilihat melalui sudut pandang Psikologi, kasus pembunuhan yang menimpa Ade Sara merupakan salah satu bentuk Agresi yang muncul pada diri kedua pelaku. Hal ini sesuai dengan Teori Frustasi-Agresi Klasik yang menyebutkan bahwa agresi merupakan pelampiasan dari perasaan frustrasi. Sesuai teori ini, kita dapat mengidentifikasi akan rasa frustasi kedua pelaku melalui motif pembunuhan mereka. Hafitd, merasa frustasi akan rasa cintanya yang mengalami penolakan oleh Ade Sara, sedangkan Assyifah, merasa frustasi akan (Anxiety) kecemasan ditinggal oleh Hafitd. Teori lain yang juga sesuai adalah mengenai (Shadow). Shadow merupakan sikap agresif seperti hewan yang tersembunyi di balik diri setiap manusia. Pengendalian Shadow, dapat dilakukan oleh superego yang mengandung banyak nilai moral dan norma – norma sosial.  Hal ini dikarenakan Shadow adalah salah satu bentuk dari Id yang selalu ingin dipuaskan.
                 Fenomena lainnya yang terdapat di dalam kasus pembunuhan Ade Sara adalah fenomena Pelaku yang ikut melayat dan mengeluarkan statement ikut berbela sungkawa di akun Twitter dan Path. Menurut sudut pandang psikologi, Fenomena melayat dan kicauan bela sungkawa di akun Twitter serta Path menjadi salah satu bentuk dari mekanisme pertahanan diri (Defence Mechanism). Defence mechanism yang digunakan dalam hal ini adalah Rasionalisasi. Arti dari Rasionalisasi adalah Ego, mengganti motif yang kurang dapat diterima dengan yang dapat diterima. Hal ini terlihat dari sikap kedua pelaku yang mengganti perasaan bersalah dan ketidak nyamanan mereka dengan ikut serta melayat dan meng-update pesan bela sungkawa.Jika kita pikir dengan akal sehat, apabila kedua pelaku tidak melakukan prosesi melayat dan meng – update perasaan bela sungkawa seperti teman – teman lainnya, tentu mereka berdua akan lebih mudah dicurigai sebagai tersangka.
                Fenomena lain yang tak kalah menarik yang muncul pada pemberitaan ini adalah hujatan dari masyarakat sekitar dan teman – teman mereka di sosial media. Sebagian besar dari kometar mereka berisi hujatan dan labeling berupa (Psychopat). Hal ini memang seharusnya tidak dilakukan, karena dapat merenggut sisi kemanusiaan seseorang. Secara tidak langsung, masyarakat yang memberikan label kepada kedua pelaku telah memandang mereka layaknya bukan manusia. Hal ini seharusnya bisa dihindari karena dapat melanggar hak asasi manusia. Walaupun hukuman pidana telah diberikan, tak bisa dipungkiri bahwa hukuman sosial dari masyarakat dalam bentuk yang lainpun akan tetap diterima kedua pelaku. (Hernando)
Sumber : http://megapolitan.kompas.com

Jumat, 07 Maret 2014

Sang Pahlawan Hutan Danau Rawet


Pahlawan Hutan Danau Rawet

sunber gambar :
angelaplt1995.blogspot.com/2014_02_01_archive.html
                Dugan Iris Iman, mungkin sebagian besar dari kita tidak mengenal beliau. Jelas saja, beliau hanya seorang warga biasa yang tinggal di Palangkaraya, Kalimantan Timur. Dugan Iris Iman, adalah seorang lelaki kelahiran asli kota Palangkaraya, Kalimantan Timur, yang kini telah menginjak usia 47 tahun. Namun, siapa yang menyangka seorang warga biasa mampu melakukan hal yang sangat luar biasa. Beliau mengabdikan hidupnya untuk mengurus suatu hal yang mungkin tak pernah terpikirkan dan tak pernah kita hiraukan selama ini.
                Dugan Iris Iman, mengabdikan sebagian bsar masa hidupnya untuk menjaga dan melestarikan hutan Danau Rawet di kota Palangkaraya. Sejak remaja beliau sering berkeliling dan mengamati perkembangan hutan Danau Rawet. Di dalam hutan seluas 8000 hektar itu, terdapat sebuah danau seluas 600 meter persegi. Selama Dugan menjaga dan mengawasi hutan Danau Rawet, beliau sering dipertemukan dengan para penebang liar, nelayan yang menggunakan racun, penyetrum ataupun bom ikan. Jika beliau menemukan para pelaku criminal tersebut, beliau langsung menegur dan melapor kepada polisi hutan.
                Dalam melakukan tugasnya, beliau membangun sebuah pondok di dekat danau. Hal ini dutunjukan agar beliau bisa terlindung dari panas dan hujan. Sebab, dalam satu bulan beliau hanya pulang 2- 3 hari sebelum akhirnya lembali lagi menjaga hutan Danau Rawet. Keluarga Dugan, juga mendukung kegiatan Dugan yang lebih sering menjaga hutan Danau Rawet. Terkadang, keluarga Dugan juga menemani Dugan untuk berjaga di pondok. Menurut Dugan, saat ini terdapat sekitar 15 orang yang sesekali membantu dan menemani beliau saat berjaga di pondok. Sungguh pengabdaian yang luar biasa yang dilakukan Dugan untuk menjaga kelestarian alam kota Palangkaraya.
                Dalam mejalankan kesehariannya, Dugan bekerja sebagai nelayan dengan pendapatan 1 – 2 juta per-bulan. Penghasilan sebagai nelayan memang dirasa kurang cukup untuk kebutuhan keluarga dan bertahan hidup di pondok. Dugan juga sering mendapatkan bantuan berupa makanan dan bahan bakar dari saudara dan kerabat dekatnya. Hal ini sungguh mampu mengurangi kesulitan Dugan dalam menjalankan tugasnya sebagai “Pahlawan “ bagi hutan Danau Rawet.
                Meski menjalani kehidupan yang sulit, Dugan telah mampu menyelesaikan kursi pendidikan di tingkat universitas. Ya, beliau merupakan seorang sarjana lulusan Fakultas Perikanan Jurusan Budaya Perairan di Universitas Kristen Palagkaraya. Bahkan, beliau mampu menyekolahkan 2 orang anaknya sampai sekarang. Sungguh luar biasa, seorang sarjana yang mungkin akan memiliki peluang besar di dunia kerja, malah memilih menggunakan ilmunya dalam melestarikan alam di hutan Danau Rawet. Bahkan, beliau telah bertekad untuk menjaga hutan Danau Rawet dengan keluarganya sampai akhir hayatnya.
                Melalui kisah beliau, kita dapat bayak belajar mengenai arti dari kehidupan. Beliau yang memiliki gelar sarjana, dan mungkin akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meraih kesempatan, namun memilih untuk menjaga dan melestarikan hutan. Beliau memilih untuk hidup sederhana namun tetap mengutamakan pentingnya pendidikan bagi dirinya ataupun masa depan anaknya. Dari kisah hidup beliau  kita dapat belajar bahwa uang bukanlah segalanya. Walaupun sebenarnya tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam kehidupan kita memang memang membutuhkan uang. Namun, dibalik itu semua masih ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengabdi kepada bangsa ini dan tidak berfokus hanya untuk mencari uang. Seperti yang dilakukan Dugan Iris Iman, suatu hal sederhana dengan mengabdi untuk menjaga hutan Danau Rawet sebagai warisan kepada anak dan cucu kita semua. (Hernando)
               
 Sumber : Kompas, Senin, 24 Februari 2014, hal 16.

Senin, 03 Maret 2014

What is Psychology?? What is The Psychologist do??


sumbe gambar : http://www.zazzle.com.
Psychology is the scientific study of human behavior and mental processes. Psychologist approach human behavior as scientist who think critically, curious, skeptical, and objective. Everything organism do and can be observed, there called behavior. Mental processes include feelings, thoughts, and motives. Psychologist can’t observed the mental processes but their can observed the human mental processes from the human behavior. Psychologists explore concepts such as perception, cognition, attention, emotion, phenomenology, motivation, brain functioning, personality, behavior, and interpersonal relationships, including psychological resilience, family resilience, and other areas. Because psychology as a science, so psychologist used the scientific method for their research.
Psychology emerged as a science from the fields of philosophy and physiology. There are two fouders of the science of psychology. Their are Wilhelm wundt and Wiliam James. Wundt’s structuralism emphasized the councious mind  and its structure. James’s functionalism emphasized the function of the mind in human adaptation to the environment.
There are so many jobs for bachelor of psychology. But, many psychologists work independently and also team up with other professionals — for example, with other scientists, physicians, lawyers, school personnel, computer experts, engineers, policymakers and managers — to contribute to every area of society. Thus, we find them in laboratories, hospitals, courtrooms, schools and universities, community health centers, prisons and corporate offices.

by : Hernando

Jumat, 28 Februari 2014

Sang Penyair "Ya Saman"


Kamsul Arifuddin Harla
Kamsul Arifuddin Harla, Siapakah dia? Mungkin sebagian besar dari kita tak pernah tahu sosoknya. Namun, tahukah anda bahwa Kamsul Arifuddin Harla merupakan seorang budayawan lokal dari kota Palembang? Ya, Samsul Arifuddin Harla merupakan salah satu seniman musik yang cukup terkenal di kota Palembang. Lagu – lagu yang diciptakan oleh beliau adalah lagu – lagu berbahasa melayu Palembang.
                Nyelek Belumban perahu bidar di Sungai Musi. Janganlah lupo beli telok abang. Cantik rupo penyabar dan baek ati. Adek manis bermabut panjang dikuncit kepang. Demikian lirik lagu “Ya Saman”. Salah satu lagu ciptaan Kamsul Arifuddin Harla yang sangat terkenal baik di nusantara maupun di mata dunia.
Awalnya, lagu “Ya Saman” diciptakan oleh Kamsul Arifuddin Harla untuk keperluan pentas teater festival Sriwijaya. Kata “Ya Saman” memiliki arti “Ya Ampun”. Lagu ini tercipta di tahun 2005, sebagai bentuk bentuk kerinduan beliau pada bahasa daerah Palembang yang semakin jarang terdengar.
Lagu “Ya Saman” telah  digunakan untuk album Visit Musi yang dibiayai oleh pemerintah setempat. Selain untuk album Visit Musi, lagu ini juga telah digunakan untuk acara penutupan SEA Games 2011. Namun bukannya senang, beliau malah kecewa dan kesal. Hal ini karena panitia penyelenggara SEA Games tidak meminta ijin untuk menyajikan lagu ini di depan publik internasional. Bahkan, yang membuat Kamsul Arifuddin Harla semakin naik pitan adalah ketika penyajian lagu “Ya Saman”, nama beliau tidak disebutkan sebagai pencipta.
Kamsul Arifuddin Harla juga pernah mendapatkan pengharggan Anugerah Dewan Kesenian Sumatera Selatan untuk bidang Seni Musik 2012. Meskipun nama Kamsul Arifuddin Harla sudah cukup dikenal, kehidupan yang dijalani beliau tidaklah mewah. Menurut beliau, hal ini karena lagu – lagu yang diciptakannya lebih banyak tersebar dalam bentuk bajakan. Memang sangat miris jika kita melihat kenyataan tersebut. Sehari – harinya Kamsul Arifuddin Harla bekerja sebagai pelatih musikalisasi puisi di beberapa sekolah di Palembang dan sebagai perantara jual beli mobil.
Meski minim tanda jasa, Kamsul Arifuddin Harla tidaklah menyerah. Beliau tetap berusaha untuk menjaga warisan budaya Hal ini terbukti dari lagu – lagu ciptaanya yang lain yang memadukan musik tradisional dan music modern. Selain melalui seni musik, beliau juga mewariskan budaya Palembang melalui kelompok teater miliknya yang juga sering mengadakan pentas di sekitar kota Palembang. Meski seni daerah seni daerah belum mampu menghidupi diri dan keluarganya, beliau bertekad tak akan meyerah menghidupkan seni.